Perjalanan Napoli ke Positano
Ada tempat-tempat di dunia yang perlu dirasakan langsung. Tidak cukup hanya sakadar berfoto sahaja. Contohnya Positano dan Amalfi Coast. Perjalanan dari Napoli ke Positano dengan kendaraan sendiri.
Naik Mobil dari Napoli ke Positano | 27 Maret 2026
Dari Naples, Menuju La Dolce Vita. Pesawat kami mendarat di Aeroporto di Napoli tepat waktu di bawah langit cerah
lan biru. Supir Santun dari Serbalanda mendampingi Bapak dan Ibu Wikanto, naik pesawat dari airport Vienna Austria ke Napoli. Setelah penerbangan dua jaman, kami disambut cuaca cerah Campania. Setibanya di Italia Selatan kami mengambil kendaraan rental di area luar terminal.
Kami tidak kecewa walau sebenarnya tidak mendapatkan kendaraan seperti yang dipesan. Seminggu sebelumnya kami memesan VW Tiguan SUV, sesuai arahan dari bapak Wikanto. Namun pihak rental biasanya memang mencantumkan catatan. Kami akan siapkan jenis mobil yang dipesan atau “merek lain yang sejenis.” Benar sahaja, kami akhirnya mendapatkan mobil merek Renault yang masih baru. KM tercatat 1000an kilometer. Awalnya agak kecewa karena client sebenarnya paling senang dengan Volkswagen. Apaboleh buat kamipun menerima Renault seperti tertera di bawah ini.
Setelah mendapatkan kunci dan mobilnya, kami memasukkan koper dengan aman. Diawali dengan doa, kami pun meluncur meninggalkan kawasan Airport Naples menuju destinazione: Positano.

Oh ya, Supir ingin sharing nih. Tips praktis berperjalanan dengan mobil di Italia. Karena sistem jalan tol di Italia, yang dikenal dengan Autostrada punya aturan spesifik. Berbeda dari negara Eropa lain yang biasanya menggunakan stiker (vignet). Di Italia, dikenakan beaya tol berdasarkan jarak tempuh. Mungkin lebih mirip dengan di Indonesia, yang menggunakan gerbang tol. Namun demikian ada sebagian jalan tol sekitar kota Milan yang tidak lagi memakai gerbang, tapi sudah pakai kamera yang mencatat setiap kendaraan yang melintas.
Jadi salah satu persiapan terpenting perjalanan darat di Italia adalah menggunakan Telepass Tollbadge, transponder tol otomatis yang sistem pembayaran diambil dari rekening kita. Sebagai antisipasinya supirsantun membawa Fulli Tollbadge langganan untuk melintas jalanan tol Eropa. Badge ini berlaku juga di Prancis, Portugal, Spanyol dan Italia. Jadi Supir Santun tidak perlu berhenti gaes, tidak perlu repot mencari uang pecahan atau mencari-cari kartu ATM di kantong. Palang tol terbuka otomatis. Perjalanan pun terasa mulus dan efisien mulai dari awal.
Rute dari Naples ke Positano memang tidak bisa ditempuh dengan cepat, bukan karena macet, tapi karena jalannya sendiri sudah merupakan sebuah pertunjukan dan tantangan sekaligus. Kami melewati jalan yang namanya: Strada Statale 163. Jalan dua arah di pesisir Amalfi yang legendaris, meliuk-liuk bak pita sutera di tepi tebing. Di salah satu tikungan yang menawarkan pemandangan terbaik, kami memutuskan untuk berhenti sejenak. Rumah-rumah warna-warni, oranye, kuning, putih kapur, tersusun berlapis di tebing batu seperti mozaik raksasa yang memandang ke laut. Di bawah ini kami sematkan video dari Youtube, mengenai perjalanan di Positano agar kawan ada bayangan.
Bagi supir santun, perjalanan inipun untuk pertama kalinya lewat jalur ini, tentu saja merasa takjub setiap saat. Satu hal yang, supirsantun waspadai ketika berpapasan dengan bus SITA lokal yang ukurannya cukup besar, di tikungan sempit. Dibutuhkan kesabaran dan ketenangan ekstra. Sedikit mundur, sedikit menepi, dan akhirnya Alhamdulillah semua baik-baik saja. Di sini Serbalanda tidak ingin menakuti, karena akhirnya kebanyakan pengemudi bisa selamat sampai tujuan.

Sekitar pukul lima sore, kami tiba di Positano dan menurunkan koper di Hotel Eden Roc Positano, sebuah properti yang menempel indah di lereng bukit dengan pemandangan langsung ke Laut Tirenia. Check-in berjalan lancar, dan tetamu mendapatkan kamar dengan view yang sungguh memanjakan mata. Ẅah bagus banget pemandangan ke luar pak. Dan kamar kami ada balkon menghadap ke laut.” demikian disampaikan Pak Wikanto kepada Serbalanda lewat pesan WA.

Pukul 19.00, suhu malam sudah mulai sejuk dan nyaman. Angin laut berhembus pelan dari arah pantai. Kami berjalan menuruni lorong-lorong batu Positano menuju sebuah rumah makan lokal kecil di dekat pantai. Menu malam adalah pizza Napoletana autentik, tipis renyah di pinggir, lembut di tengah, dengan tomat San Marzano dan mozzarella segar. Percakapan mengalir hangat dan tawa mudah keluar.

Itulah yang saya suka dari perjalanan seperti ini, kedekatan yang terjalin bukan hanya antara tamu dan destinasi, tapi juga antara sesama manusia di meja makan yang sederhana. Malam itu kami kembali ke hotel dengan hati penuh dan kaki yang
siap istirahat.


