__

|SERBALANDA|

|SAHABAT BERWISATA DI EROPA|

Home Private dan Paket Tour Obyek Wisata Eropa Hubungi Kami

Service Kami

Supir Santun

dengan senang hati, kami menemani kawan jalan-jalan di Eropa

Read More

Private Tour

Kami siap mengantar wisatawan berkunjung ke tempat tujuan sesuai keinginan. Pelayanan dengan penuh keramahan dan kenyamanan.

Read More

Paket Tour

Kami menawarkan wisata Open Trip di Eropa dengan kendaraan yang nyaman dan perjalanan yang menyenangkan.

Read More

Syarat dan Ketentuan

Aturan main untuk pemesanan, pembayaran dan pengiriman.

Read More

Berita Hangat

2014/12/24

Dua Jam, Tukang Koran Dapat Rp. 6 Juta

Dua Jam, Tukang Koran Dapat Rp. 6 Juta


Tukang antar koran di Belanda berpesta tiap akhir tahun. Pendapatannya bisa sampai Rp. 6 juta dalam dua jam.

Sudah menjadi tradisi di Belanda ini, kalau di akhir tahun penduduk menyiapkan uang kepingan koin  € 0,50, € 1,- atau € 2,- di rumahnya. Recehan itu untuk pengantar koran dan folder iklan dari rumah ke rumah. 


Bel Pintu
Antara tanggal 20 - 24 Desember berapa p
engantar koran dan reklame ini datang bawa koran atau selebaran iklan. Berbeda dari biasanya, ia kali ini akan memijit bel rumah, "ting-tong" dan menyerahkan langsung kertas itu. 

Biasanya dia menyertakan kartu Natal dan Tahun Baru. Dan memperkenalkan diri seraya berujar "Selamat Menyambut Natal dan Tahun Baru." 

Mana Angpao?
Remaja ini akan diam dan nunggu barang setengah menit, yang intinya. "Mana, nih Angpaonya?!"  Penulis sudah 20 tahun apal dan melihat hal yang sama di Almere, Utrecht maupun di Nieuwegein. 

Wilayah penyebaran koran per anak bisa sampai 1000 alamat. Dengan pukul rata, 500 memberi uang €1,- maka hasilnya sekali ngider bisa dapat € 500. Sekitar Rp. 7,5 juta, itu angka yang fantastis men! Bonus THR senilai dengan kerja dia selama 3 bulan.

Ini sudah jadi tradisi di Belanda. Sejatinya kita tidak wajib memberi uang ke pengantar folder dan koran gratis. "Toh akhirnya kertas-kertas itu langsung mendarat ke tempat sampah." Apalagi di zaman sekarang ini iklan yang sama bisa dilihat di internet.


Mau Kerja
Penulis memilih memberi, lebih karena kasihan, dan rasa ingin mendidik saja kepada anak-anak ini. Bahwa "kalau kamu bekerja dengan baik, akan memetik hasilnya."

Mengantar koran lebih baik daripada diam sambil memainkan jari jemari dan mata memandangi layar Tablet dan Smart-Phone sambil cengigisan! Remaja pengantar koran ini, mungkin juga doyan main tablet, tapi dia masih bisa cari uang sendiri. Dan di akhir tahun dapat bonus ge-de.

Tatapan Bermakna
Kembali ke cerita di depan pintu. Dari tatapan mata si anak terpancar ungkapan tidak tertulis yang berarti: Mana recehnya? 

Bahasa isyarat itu mirip anak kecil di Indonesia yang baru saja disuruh paman atau ayah membeli rokok atau voucher ke warung. Tangannya menyerahkan sebungkus rokok atau voucher, berserta uang kembalian. Mata si anak, melempar pesan.. "Recehan ini, untuk siapa ya?"

Sebenarnya perbandingan bahasa isyarat pengantar koran lebih mirip dengan Pengamen di Indonesia. Datang tak diundang, pulang minta recehan. Tatapan matanya sama.. "Aku kan sudah nyanyi.. haus nih.. untuk beli minumnya mana?"  Akhirnya kita tidak bisa menolaknya.



Kerja Sambilan
Dalam Bahasa Belanda profesi pengantar koran disebut dengan Krantenloper atau Folderbezorger. Pekerjaan ini bersifat sambilan untuk satu sampai dua hari seminggu. Sekali mengider koran atau folder biasanya memakan waktu satu sampai dua jam. 

Anak sekolah setingkat SMP di Belanda biasanya mencari tambahan uang saku dari perkerjaan ini. Tidak menghabiskan banyak waktu dan tidak perlu keahlian khusus, cukup kondisi fisik yang prima. Karena koran itu kalau masih bertumpuk, cukup berat. Bagi seorang remaja tidak masalah karena fisik masih bugar dan hanya butuh satu sampai dua jam per ronde.

Gonggongan Anjing
Walaupun kadang dihadapkan masalah: Gonggongan Anjing Galak, Hujan-Salju serta Badai tapi kalau sudah dekat Natal seperti sekarang ini, mereka semangat karena bonusnya lumayan besar.

Dengan uang Rp. 7 jutaan di kantong, para remaja ini perlu hati-hati juga jalan sendirian. Sebab tidak jarang ada aksi pemalakan atau perampokan yang menyasar pada remaja yang baru dapat Angpao. Jangan sampai, ingin Untung malah Buntung!

2014/12/13

Hati-hati Jika Indonesia Buka 10 Restoran di Belanda!

Hati-hati Jika Indonesia Buka 10 Restoran di Belanda!

Menteri Pariwisata Indonesia Arief Yahya akan membuka 10 restoran Indonesia di setiap negara. Apakah juga di Belanda yang sudah ada ratusan resto Indonesia?


Trobosan Baru
Eka Tanjung dari Serbalanda, mencatat banyak terobosan baru yang dilakukan pemerintahan pimpinan Presiden Joko Widodo atau Jokowi. Menteri Perikanan Susi menerapkan kebijakan tegas terhadap kapal asing yang mencuri ikan di perairan Indonesia. Menteri Imam Nahrawi akan melakukan pembenahan sepak bola nasional. Dan masih banyak lainnya. Semua menteri tampaknya mendapat perintah untuk "Kerja-Kerja-Kerja."


10 Resto Tiap Negara
Pekan lalu giliran Arief Yahya Menteri Pariwisata mengumumkan target membuka 10 restoran Indonesia di tiap negara di dunia. Pria kelahiran Banyuwangi itu menyampaikan rencananya pada pembukaan Pekan Wisata Kuliner Tradisional Nusantara 2014 di Jakarta 12 Desember 2014 lalu.

2014/12/11

Soal Berhitung, Indonesia Lebih Hebat dari Belanda

Soal Berhitung, Indonesia Lebih Hebat dari Belanda

Belanda terkesan iseng dan kurang kerjaan. Kulit kerang diamati, jumlah domba saja dihitung. Indonesia tetap lebih hebat.


Serbalanda dibuat bingung oleh ulah lembaga Belanda yang selalu merilis jumlah benda yang ada di negeri ini. Kelahiran, kematian, jumlah kodok, ikan, perceraian. Detiiil sekali. Sampai dibuat grafik dan lainnya. 




Biro Statistik
Lembaga itu namanya CBS (Centraal Bureau voor de Statistiek) mereka mendata segala macam hal yang terbang, yang berenang atau yang berjalan kaki. Yang berkaki empat, dua, sampai yang hanya berkaki satu saja dilaporkan. 


Baru-baru ini di media Belanda muncul judul lucu. "Jumlah Peternakan Domba, di Belanda Menurun."

Haha.. untuk apa jumlah peternakan domba kok sampai dilaporkan? Kita kan perlu: Satenya. Ada domba kita sate, tidak ada domba ya impor. Gitu aja kok repot, nda..Nda. Yang penting kita bisa makan Sate atau Gulai. Sukur-sukur dapat Gulai Rudal. 

Domba Turun 
Dalam berita itu disebutkan bahwa: Jumlah peternakan domba di Belanda menurun hampir sepertiga pada tahun 2014. Tahun 2000 jumlah perusahaan yang memelihara domba sebanyak 17.500. Mereka tercengang, lho empat tahun kemudian di 2014 jumlah perusahaannya kok menjadi 12.000 saja. Demikian lapor Centraal Bureau voor de Statistiek (CBS).


"Jumlah dombanya juga menurun. Tahun 2000 lalu jumlahnya masih 1,3 juta, tahun ini kok menurun menjadi kurang dari satu juta," kata laporan itu. Belanda ini bagaimana sih, lho kan disate? Ya berkurang dong.

Oke lah mungkin penghitungan itu bisa bermanfaat bagi ekonomi, ekologi, perternakan, lingkungan hidup dll. Tapi sudah lah, jangan diumumkan ke publik yang sebenarnya lebih tertarik pada sate atau gule. 



Indonesia Cerdas
Serbalanda menilai Indonesia punya pemecahan yang berbeda soal hewan.  Contoh Sapi. Ketika kekurangan sapi, dan wilayah Indonesia "yang luas" kekurangan lahan ya ambil sapi impor. Tidak usah ngurusi dan tangan gak usah bau tai sapi, sudah dapat sapi gemuk-gemuk dari Australi. Rendang dan Empal mak nyuss segera tersaji.





Indonesia Hebat!
Kembali soal berhitung. Orang Londo kurang mampu menghitung mahluk halus yang tidak kasat mata. Indonesia lebih jago dari Belanda. Kita bisa menghitung jumlah hantu. Di kuburan, di rumah tua sampai yang masuk ke dalam badan tetangga bisa dihitung. Kamera TV Indonesia bisa menangkap penampakannya. Kita lebih hebat kan?!

2014/12/08

Sejarah Evolusi Harus Ditulis Ulang: Jejak Kecerdasan "Orang Ngawi" Setengah Juta Tahun Silam

Sejarah Evolusi Harus Ditulis Ulang: Jejak Kecerdasan "Orang Ngawi" Setengah Juta Tahun Silam

Penemuan torehan pada kulit kerang asal Trinil memaksa sejarah evolusi manusia untuk ditulis kembali. Siapa sangka, nenek moyang kita di Ngawi sudah mampu membuat pola "kelok-kelok" sejak setengah juta tahun yang lalu!

Selama ini, dunia arkeologi menganggap torehan tertua karya manusia baru muncul sekitar 100 ribu tahun lalu di Afrika. Namun, temuan di Jawa Timur ini membuktikan bahwa manusia purba sudah menggunakan peralatan dan membuat karya seni jauh lebih awal dari dugaan semula.

Temuan Tak Sengaja di Leiden
Homo Erectus: Lebih Cerdas dari Dugaan
Antara "Paikem" dan Label Ilmiah
Di Mana Posisi Ilmuwan Indonesia?

Adalah Dr. José Joordens, arkeolog dari Universitas Leiden, yang menemukan torehan tangan pada kulit kerang air tawar asal Trinil tersebut. Menariknya, kerang ini merupakan bagian dari ratusan koleksi Eugène Dubois yang selama ini tersimpan di Naturalis Biodiversity Center, Leiden, Belanda.

Melalui riset kolaboratif bersama peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam dan Wageningen University, tim menyimpulkan bahwa usia ukiran tersebut berkisar antara 430.000 hingga 540.000 tahun. Gila, setengah juta tahun! Itu usia yang sangat tua bagi sebuah karya seni.

Temuan ini mengejutkan jagat sains. Pasalnya, ukiran tertua sebelumnya yang ditemukan di Kenya dan Ethiopia (kawasan Danau Turkana) baru berusia 100.000 tahun. Artinya, Homo erectus atau Manusia Jawa sudah melakukannya empat kali lebih awal!

Nenek moyang kita yang hidup di sepanjang bantaran Bengawan Solo ini ternyata bukan sekadar pengembara. Kemampuan mereka mengukir di atas kulit kerang menandakan adanya kecerdasan, kemampuan berkomunikasi, dan mungkin... identitas diri.

Di sinilah letak ironinya. Manusia cerdas yang sudah bisa "menulis" di atas kerang ini pasti punya nama, bukan? Bisa saja pengukirnya bernama Simbah Paikem atau Mbah Harjo. Bayangkan perasaan mereka di alam sana saat melihat nama mereka diganti secara paksa oleh ilmuwan modern menjadi "Homo erectus".

Bagi saya, ini terasa seperti pemerkosaan terhadap peradaban. Jika sejarah memang harus direvisi, mengapa kita tidak sekalian saja memberi nama yang lebih "lokal"? Daripada istilah Latin yang kaku, bukankah "Simbah Paikem" terasa lebih menghargai jati diri mereka sebagai leluhur kita?

Hal lain yang membuat saya heran adalah posisi Indonesia di kancah ilmu pengetahuan dunia. Mengapa sejak zaman kolonial hingga sekarang, kita seolah hanya menjadi objek penelitian?

Lagi-lagi, nama ilmuwan asing yang melejit lewat temuan yang—notabene—adalah karya leluhur orang Indonesia. Pertanyaannya: kapan giliran ilmuwan Indonesia yang memimpin, menemukan, dan memamerkan harta karun sejarah kita sendiri di panggung dunia?

Blog Serbalanda

55 Cups
Average weekly coffee drank
9000 Lines
Average weekly lines of code
400 Customers
Average yearly happy clients

Team Serbalanda

Eka Tanjung
CEO
Aslam Hanif
Creative Designer
Supir Santun
Driver Guide
Mercy Vito
Armada

Contact

Info Serbalanda

Silakan Menghubungi Whatsapp atau Mengisi Formulir

Kantor:

ALMERE - BELANDA

Jam Buka:

Kami Selalu Siap Dihubungi

WHATSAPP:

+31645003336