Penemuan torehan pada kulit kerang asal Trinil memaksa sejarah evolusi manusia untuk ditulis kembali. Siapa sangka, nenek moyang kita di Ngawi sudah mampu membuat pola "kelok-kelok" sejak setengah juta tahun yang lalu!
Selama ini, dunia arkeologi menganggap torehan tertua karya manusia baru muncul sekitar 100 ribu tahun lalu di Afrika. Namun, temuan di Jawa Timur ini membuktikan bahwa manusia purba sudah menggunakan peralatan dan membuat karya seni jauh lebih awal dari dugaan semula.
Temuan Tak Sengaja di Leiden
Homo Erectus: Lebih Cerdas dari Dugaan
Antara "Paikem" dan Label Ilmiah
Di Mana Posisi Ilmuwan Indonesia?
Adalah Dr. José Joordens, arkeolog dari Universitas Leiden, yang menemukan torehan tangan pada kulit kerang air tawar asal Trinil tersebut. Menariknya, kerang ini merupakan bagian dari ratusan koleksi Eugène Dubois yang selama ini tersimpan di Naturalis Biodiversity Center, Leiden, Belanda.
Melalui riset kolaboratif bersama peneliti dari Vrije Universiteit Amsterdam dan Wageningen University, tim menyimpulkan bahwa usia ukiran tersebut berkisar antara 430.000 hingga 540.000 tahun. Gila, setengah juta tahun! Itu usia yang sangat tua bagi sebuah karya seni.
Temuan ini mengejutkan jagat sains. Pasalnya, ukiran tertua sebelumnya yang ditemukan di Kenya dan Ethiopia (kawasan Danau Turkana) baru berusia 100.000 tahun. Artinya, Homo erectus atau Manusia Jawa sudah melakukannya empat kali lebih awal!
Nenek moyang kita yang hidup di sepanjang bantaran Bengawan Solo ini ternyata bukan sekadar pengembara. Kemampuan mereka mengukir di atas kulit kerang menandakan adanya kecerdasan, kemampuan berkomunikasi, dan mungkin... identitas diri.
Di sinilah letak ironinya. Manusia cerdas yang sudah bisa "menulis" di atas kerang ini pasti punya nama, bukan? Bisa saja pengukirnya bernama Simbah Paikem atau Mbah Harjo. Bayangkan perasaan mereka di alam sana saat melihat nama mereka diganti secara paksa oleh ilmuwan modern menjadi "Homo erectus".
Bagi saya, ini terasa seperti pemerkosaan terhadap peradaban. Jika sejarah memang harus direvisi, mengapa kita tidak sekalian saja memberi nama yang lebih "lokal"? Daripada istilah Latin yang kaku, bukankah "Simbah Paikem" terasa lebih menghargai jati diri mereka sebagai leluhur kita?
Hal lain yang membuat saya heran adalah posisi Indonesia di kancah ilmu pengetahuan dunia. Mengapa sejak zaman kolonial hingga sekarang, kita seolah hanya menjadi objek penelitian?
Lagi-lagi, nama ilmuwan asing yang melejit lewat temuan yang—notabene—adalah karya leluhur orang Indonesia. Pertanyaannya: kapan giliran ilmuwan Indonesia yang memimpin, menemukan, dan memamerkan harta karun sejarah kita sendiri di panggung dunia?